in

Presiden Jokowi Perlu Meninjau Ulang Tim Dewan Gelar Kepahlawanan

IMG 20200622 WA0024
Caption foto: Prof Anhar Gonggong saat diterima Presiden Joko Widodo di Istana Bogor beberapa hari lalu. Foto internet

Oleh: Nur Iskandar

Opini pribadi saya ini saya cuitkan juga di laman FaceBook agar publik tahu bahwa keterbukaan itu penting, sehingga kita bisa sama-sama menikmati indahnya alam kemerdekaan dengan hati nurani demokrasi–dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Di sini saya mau katakan bahwa obyektivitas Prof Anhar Gonggong sebagai unsur sejarawan dalam konteks memperjuangkan Sultan Hamid II Pahlawan Nasional di Kementerian Sosial (Baca: Dewan Gelar–Di-SK-kan oleh Presiden) mesti ditinjau ulang oleh Presiden RI Joko Widodo yth jika Negara mau objektif dan adil seadil-adilnya untuk menilai kepahlawan seseorang sekaligus menegakkan kebenaran.

Sudah banyak bukti tidak objektifnya Prof Anhar karena banyak keluarganya jadi korban Westerling, yang oleh Westerling sendiri sebelum menghembuskan napas terakhir sempat menulis autobiografi berjudul Mijn Memories–Kapten Westerling–di sana dia mengakui bahwa pemberontakan APRA yang dilakukannya tidak ada perintah dari Sultan Hamid melainkan bumbu politik perebutan kekuasaan belaka saat itu: 1945-1950.

Catatan lain, Westerling, saat Sultan Hamid dihakimi, tidak ditangkap Pemerintah RI sehingga tidak bisa bersaksi, padahal dia SAKSI KUNCI atas segala tuduhan APRA kepada Hamid–soal kenapa tidak ditangkap–penguasa saat itu yang bisa menjawabnya–kita hanya membaca dan menganalisa situasi politik ketika itu–jika Mijn Memories mewakili SAKSI KUNCI Kapten Westerling–dugaan saya putusan hakim pastilah Hamid bebas murni dari segala tuduhan makar, terlibat peristiwa Westerling dst–dus Hamid tidak dipenjara 10 tahun potong masa tahanan 3 tahun–sehingga mulus tuh jadi PAHLAWAN NASIONAL kita lantaran amat besar jasa SH-II selain warisan LN Garuda Pancasila juga Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar/KMB.

Baca Juga:  Mata dan Pikiran Publik

Bukti subyektivitas Prof Anhar Gonggong di Kampus UI. Terjadi “perseteruan” Prof Anhar Gonggong bersama Prof Dr Syarif Ibrahim Alkadrie, M.Sc di forum bedah buku sejarah tulisan Prof Yasmine. Artikel yang senada kesaksian saya pada 27/11/19 ditulis oleh saksi mata pada forum UI itu (Dian Alkadrie, putri Prof Dr Syarif Ibrahim Alkadrie).

Artikel Dian pernah dimuat di teraju.id, 7 bulan yang lalu sebagai menyikapi tulisan Anshari Dimyati menjawab seluruh tuduhan Prof Anhar Gonggong terhadap Hamid (juga berseteru dengan Yayasan Sultan Hamid).

Saya baru sadar setelah membaca ulang, selain kesaksian saya yang meliput di Dinas Sosial tertanggal 27/11/19 itu, rupanya juga ada peristiwa lain di hadapan banyak guru besar di kampusnya Prof Anhar mengajar sejarah. Bacalah naskah Dian berikut ini (https://teraju.id/opini/menjawab-anhar-gonggong-tentang-sultan-hamid-dengan-penelitian-ilmiah-guru-guru-besar-ui-yang-sudah-dibukukan-11837/).

NB: Untuk keluarga Prof yang gugur di tangan Westerling saya pribadi dan keluarga turut berduka-cita sedalam-dalamnya. Alfatihah untuk mereka yang juga karib-kerabat saya sesama darah Sulsel. Alfatihah untuk para syuhada dan Pahlawan Indonesia. #luruskansejarah sultanhamid *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

WhatsApp Image 2020 06 24 at 23.24.06

“Milea: Suara Dari Dilan”

WhatsApp Image 2020 06 25 at 16.36.42

Seribu Guru Sejarah se-Indonesia akan Webinar tentang Sultan Hamid II