Home > Opini > Menjawab Anhar Gonggong tentang Sultan Hamid
Prof Dr Anhar Gonggong saat diterima Gubernur Kalbar H Sutarmidji SH M.Hum dengan kesepakatan ilmiah empiris dimana fakta sejarah mesti bisa dibuktikan.

Menjawab Anhar Gonggong tentang Sultan Hamid

Oleh: Dian Alkadrie*

Dr. Anhar Gonggong, namanya. Beliaulah yang mendebat abah “n” Doktor Rusdi saat bedah buku Husni Thamrin di Universitas Indonesia (UI).

Beliau (Anhar, red) mempermasalahkan pembunuhan keluarga besarnya di Sulawesi dan menuduh dengan kekehnya kalau Sultan Hamid II adalah pengkhianat atau antek-antek Belanda. “Masak orang yang kebelanda-belandaan atau bangga dengan gaya hidup kebelanda-belandaan pantas diberi gelar pahlawan?” Begitu katanya, “Orang yang menyebabkan keluarga besar saya mati di Sulawesi jadi pahlawan nasional?” (baca: Sosialisasi Gelar Pahlawan Nasional bersama Anhar Gonggong Berakhir di Ruang Kerja Gubernur).

Saat itu Abah (Prof Dr H Syarif Ibrahim Alkadie, M.Sc, ayah penulis, red) coba menjelaskan tetapi beliau tetap keukeh. Hingga Abah dibela beberapa orang di dalam forum, dan seorang profesor atawa guru besar. Bagaimana subyektivitasnya Anhar sebagai seorang penilai. Bagaimana bisa seorang penilai hanya percaya pada satu sudut pandang dan membawa masalah keluarga dalam keputusan terhadap umat banyak.

Akhirnya Doktor Rusdi minta Abah mengadakan acara seminar yang gaungnya lebih besar untuk mendebatkan masalah yang dituduhkan oleh Prof Dr Anhar Gonggong tersebut. Yakni tuduhan Sultan Hamid terlibat Peristiwa Westerling dan kebelanda-belandaan.

Baca Juga:  Yayasan Hamid Kesalkan Kemensos Soal Usulan Sultan Hamid Pahlawan Nasional

Padahal Beliau (Anhar) n Abah teman baik. Tapi untuk hal itu Beliau tidak gentar sedikitpun. Abah coba mendebatnya dengan bahasa halus yang menyinggung budaya “sirik-nya”, karena Abah pakar budaya Bugis sirik-masirik yang Beliau paham akan kepakaran Abah mengenai itu. Beliau sempat terdiam dan coba untuk tidak mendebat lagi.

Prof Yasmine tetap kekeh memasukkan kata pengantar Abah untuk buku Muhammad Thamrin karya Ummi Yasmine yang menyinggung tentang peranan Sultan Hamid II. Betapa marahnya Anhar Gonggong menerima hal itu. Beliau katakan seorang sehebat Muhammad Thamrin tidak pantas dalam bukunya dimasukkan seorang pengkhianat seperti SH II. Saya sempat emosi. Tetapi Abah mengingatkan saya untuk tetap tenang.

Oh yaa. Keluarga Shahab juga sedang memperjuangkan keluarga mereka untuk gelar pahlawan: Ashrad Shahab. Tetapi belum selesai.

Ummi Yasmine Shahab sempat bercerita kepada saya dua minggu yang lalu di rumahnya di Jakarta tentang keluarga Anies Baswedan (kini Gubernur DKI Jakarta, red), bahwa orang Yogya juga memperjuangkannya selama empat tahun baru dapat gelar pahlawan di tahun ini bagi kakek Anies Baswedan.

Baca Juga:  Lebih dari 50 tahun Hari Pahlawan diperingati, Apakah Sultan Hamid II dikenal?

Jadi perjuangan untuk gelar pahlawan memang butuh waktu panjang. Ummi katakan, seminar atau gaung memang harus dibuat sebesar-besarnya, agar semua masyarakat di luar Kalbar paham jasa Sultan Hamid II terhadap Lambang Negara hingga pengakuan kemerdekaan dari Belanda.

Dian juga sudah minta Kak Mona menyinggung tentang SH II sebagai perancang lambang negara setiap kali memberikan materi kemanapun Beliau diminta menjadi pembicara. Kak Mona termasuk team ahli dalam Kabinet Presiden Jokowi. Beliau bersedia.

Abah juga sedang mengedit sebuah buku yang sangat bagus karya suami Prof Yasmibe Shahab, Abah Saleh Umar Alhaddar. Beliau seorang pensiunan staf Kedutaan Besar Indonesia di Amerika, Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya di masa Pak Harto.

Abah Saleh Umar al Haddar seorang cucu Habieb besar di Halmahera. Beliau meminta Abah menjadi editor dan pembuat kata pengantarnya. Dian perkirakan bukunya akan menjadi acuan bagi peneliti di Indonesia dan dunia karena ini berbicara tentang perjuangan ulama dari Aceh hingga ujung Indonesia Timur.

Baca Juga:  Kepedulian Kapolda tentang Lambang Negara

Dian akan minta Abah membuat kata pengantar yang menggali juga peranan Sultan Hamid II sebagai seorang pelobi internasional bagi kemerdekaan Indonesia. In Shaa Allah.

Seperti dalam kata pengantar buku Muhammad Thamrin karya Ummi Yasmine, Abah telah menggali banyak SH II di buku itu. Alhamdulillah.

Buku itu sangat diminati saat dibedah oleh Pemda DKI Jakarta, sukses untuk ukuran sebuah buku karya seorang guru besar senior dari UI.

Buku Abah Saleh pun In Shaa Allah akan dibedah di UI Jakarta, Unsrin Palembang, Untan Pontianak, Unhas Makassar. Gubernur Sumbar minta bedah buku ulama ini di Padang. Gubernur Gorontalo sudah mendukung untuk kegiatan sosialisasi di Gorontalo, juga Maluku, Palu dan Papua Barat. Jika kata pengantarnya membahas SH II akan menjadi sangat baik untuk ikut membumikan SH II sebagai Pahlawan Nasional. Aamiin. In Shaa Allah.

* (Penulis adalah peneliti sejarah, alumni Fisip Untan, putri Prof Dr Syarif Ibrahim Alkadrie, M.Sc)

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About teraju.id

Check Also

Yudi Latif Badan Pengarah Ideologi Pancasila

Yudi Latif, sang “Pancasila Berjalan” sodorkan PERMA

Pukul 8 pagi lewat sedikit, 10/12, saya tiba di Rumah Melayu. Melompong. Lengang tepatnya. Tentu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

teraju.id