Opini

Paret ilang kotepun tenggelam, paret ilang peradabanpon ikot ilang…

Paret ilang kotepun tenggelam, paret ilang peradabanpon ikot ilang…

Dan kejadian ini berulang terus…. kembali ke sejarah belakang… para pendiri Kota Pontianak sebenarnya sudah menyiapkan Kota Pontianak sebagai Kota Air, maka untuk bersahabat dengan air, kota Pontianak pernah memilik 6550 paret dengan ukuran 650 KM, Pontianak-sintang, panjang kan, tak laen paret-paret dan wadok tuh, untuk memberi lalulitas air yang sedang masuk kota, sehingga ae-ae tersebut tidak tersesat menyebabkan banjer, bisa cepat mask ke sungai Kapuas, Sungai Landak, dan Sungai Kapuas Kecil di Lanjut ke Laut Chine Selatas.

Nah sekarang, Paret makin berkurang dari mulai masalah sendimentasi paret, penturapan paretpun malah mempersempit keberadaan paret rata-rate lebar paret berkurang satu meter, sehingga daya tampung aek makin jauh berkurang.. dan penutupan beberapa paret.

Dan nama nama paret di Pontianak milik nelai sejarah yang tinggi sebagai identitas Kampong, walau hidup di Kota di Pontianak lebih wilayah-wilayahnya di kenal kampong, ade paret neraka, paret surge, paret pangaran, paret putat, paret nanas, paret sungai jawi….dan masih ada ribuan paret lainya… cuman keberadaan kayanya belum dianggap sebagai paret-paret tersebut sebagai urat nadi kota.

(Penulis pegiat literasi lingkungan hidup Kalbar)