Mereka tiada peduli akan api yang menjilat-jilat kejam Dewi Sinta. Pun juga tiada tergetar hati mereka akan jeritan Rahwana yang meyayat dari bawah timbunan gunung Suwela.
Mereka terus bersenda gurau. Lari berkejar-kejaran. Main gajah-gajahan. Bergulingan di tanah sambil bersorak riang. Rukun dan damailah hati anak-anak kera dan anak-anak raksasa ini.
Baca Juga:Bentengi Kubu Raya dari Covid 19
Mereka tiada berpikir apa-apa, kecuali bergembira. Kegembiraan mereka seakan mengejek kisah dan riwayat yang dialami orang tua mereka ternyata hanyalah mimpi yang berakhir dengan kesia-siaan belaka.
(Sumber: Sindhunata, 1999, Anak bajang menggiring angin)
Silahkan dibahas lebih dalam.
Pakem Tegal 18-4-2019
