Opini

Pasinaon: Rukun

Pasinaon: Rukun

Karena itu, mereka yang memiliki ‘inisiatif untuk maju’, mereka yang punya pendapat lain, atau bahkan mereka yang memiliki saran bagus sering dianggap tidak pantas jika dimunculkan secara terus terang. Jika ada yang menyampaikannya, maka tidak jarang yang bersangkutan langsung diserahi tugas untuk menindaklanjuti yang diusulkan itu.
Menggunakan kosa kata tertentu juga menjadi sarana untuk menunjukkan bahwa yang bersangkutan berlaku rukun. Sering didengar kata ‘kulâ kintên’, ‘kulâ raosakên’, ‘mbokmênawi’ di awal kalimat untuk menggantikan frasa ‘menurut pendapat saya’.

Kata lain yang amat sering diucapkan orang Jawa untuk merespons ucapan lawan bicara adalah ‘inggih’ – ya. Walaupun sesungguhnya itu sebuah penolakan. Lawan bicara mesti ‘pintar’ mentafsirkan makna kata ‘inggih’ ini. Apakah sungguh menyetujui atau sebaliknya menolak mentah-mentah. Karena itu, sering didengar ungkapan ‘Inggih ora kepanggih’ – berkata ‘ya’ tetapi tidak ‘diwujudkan’.

Berpura-pura (éthok-éthok) merupakan laku rukun yang sangat sering dilakukan. Berpura-pura tidak mau menerima pemberian orang lain. Berpura-pura tidak berminat, berpuruan setuju, berpura-pura tidak lapar, berpura-pura tidak meminta dsb. Berpura-pura ini sungguh pura-pura karena dilakukan sekedar untuk menunjukkan sikapnya yang rukun.