Opini

Pemilu dan Demokrasi Buah

Pemilu dan Demokrasi Buah

Oleh: Nur Iskandar

Demam pemilihan umum (pemilu) sedang melanda Indonesia. Pada Rabu, 17 April 2019 akan dilaksanakan pemilihan serentak untuk wakil rakyat di DPRD Kabupaten/Kota, caleg DPRD Provinsi dan Pusat, Pilpres dan DPD. Tahun 2019 ini tahun politik!

Siapakah dari caleg yang bakal mulus mendapatkan kursi? Siapakah capres yang bakal memimpin Nusantara 2019-2024? Siapakah yang diapresiasi pasar?

Demam one man one vote tidak hanya di kontestasi caleg partai maupun capres. Demam serupa terjadi di pasar buah kita. Sungguh, kampanye senyap telah terjadi saban musim. Sehingga kita tak sepatutnya kita terlatah-latah…
Belum pernah terjadi dalam satu dekade terakhir ini di Kalbar turunnya buah durian sebanyak ini. Si raja buah itu turun gunung dari hampir seluruh wilayah. Mulai dari yang tersohor sejak tempo doeloe hingga yang samar-samar terdengar sebagai penghasil durian. Sebut misalnya durian Punggur, durian Sungai Jawi, durian Sempalai, hingga durian Batang Tarang. Kenyataan sekarang, sekawanan durian turun dari 14 kabupaten/kota. Harga pun anjlok. Petani pun “tejelepok”. Demokrasi pasar yang selama ini toto-tentrem, ikut deflasi. Harga langsat turun derajat. Dan yang paling terbanting adalah rambutan. Bayangkan lima ikat dihargai Rp 10 ribu saja! Di beberapa lapak pedagang, rambutan yang tidak laku dibiarkan sampai hitam-legam.