in

Pewartaan Informal

Oleh: Leo Sutrisno

Hari ini adalah hari Minggu dalam Pekan Biasa V, dengan warna liturgi hijau. Warna hijau adalah warna alam. Di Eropa, warna hijau akan terlihat sebagai warna tunas pepohonan di awal musim semi. Dalam liturgi, warna hijau melambangkan kehidupan dan harapan baru setelah dicurahi Roh Kudus di Hari Pentakosta. Ketiga bacaan hari ini berbcara tentang ‘tugas’ kita, umat Allah, ke ‘luar’.

Dalam Bacaan I, Yes 58:7-10, nabi Yesaya meyampaikan Firman Allah yang diterimanya. Sebagian di antaranya seperti berikut ini. “Aku menghendaki supaya engkau membagi-bagikan rotimu kepada orang yang lapar, ….”.

Bacaan II, 1Kor 2:1-5, adalah surat pertama rasul Paulus kepada Jemaat di Kotintus. Sebagian di antaranya berisi “Baik ajaran maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, melainkan dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya imanmu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah”.

Dalam Bacaan Injil, Mat 5:13-16, Mateus menyampaikan salah satu sabda Yesus yang dikenal sebagai Kotbah di bukit. Sebagian di antaranya adalah “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak-injak orang”.

Rangkuman dari ketiga bacaan ini adalah pesan Tuhan agar kita berbuat sesuatu untuk orang lain. Karena, kita oleh Yesus disebut sebagai garam dunia.

Dibangdikan dengan bahan ‘sembako’ yang lain, garam tidak bernilai. Harga paling murah. Tetapi, keberadaannya sangat diperlukan. Tidak hanya untuk penyedap rasa makanan tetapi untuk banyak hal lain. Misalkan untuk mengawetkan makanan, untuk menetralkan tanah yang asam, mengusir ular, dsb. Pendek kata, walau tak berharga, garam sangat bermanfaat.

Dalam Evangelii Gaudium (EG) 127, Bapa Suci, Paus Fransiskus menyatakan bahwa, dewasa ini, ada semacam pewartaan yang dikenakan pada setiap orang sebagai tanggung jawab sehari-hari. Pewartaan itu adalah menyampaikan Kabar Sukacita kepada orang yang dijumpai entah mereka itu sesama atau orang asing. Tanggung jawab ini merupakan pewartaan informal yang diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari bersama orang lain.

Pada saat men-draf naskah ini, tiba-tiba muncul ingatan kisah bijak tentang kerja kolaborasi antara si lumpuh dan si buta. Mereka menjalani kehidupan sehari-hari dengan saling berkontribusi atas kemampaun masing-masing.

Si buta karena dapat berjalan dan kuat, selalu ke mana pun perginya menggendong si lumpuh. Sebaliknya, si lumpuh karena penglihatannya cukup baik, menggunakan matanya untuk memandu arah langkah merek berdua. Selain menunjukkan arah, si lumpuh juga menceritakan dengan indah apa yang dilihat dan dirasakan kepada si buta. Jadilah mereka orang-orang yang utuh. Sempurnalah kehiduan mereka.

Bagaimana kita, yang tidak lumpuh dan juga tidak buta? Semoga!

Written by teraju.id

Masjid Batu Teluk Pakedai yang Bersejarah

Sang Pengagas “Kalbar Berkibar”