Opini

Puisi Sang Ustadz

Puisi Sang Ustadz

Jika benar apa yang ditangkap oleh penulis, maka ini sebenarnya sebuah isyarat yang krusial sedang didawuhkan kepada yang berkuasa. Ada kondisi yang sedang menjadi perhatian dan penilaian publik terhadap jalannya kekuasaan.

Barangkali ada yang beranggapan, “ah itu hanya sekedar ungkapan personal sang Ustadz”, yang sedang dalam posisi berseberangan dengan kekuasaan. Bukan mewakili pandangan sebagian besar ummat. Silakan saja barangkali jika mau berpikir demikian. Namun jika pertanyaan kita buat seperti ini, “apakah silent majority juga berpandangan yang sama, cuma level ketakutannya lebih-lebih lagi, sehingga lebih memilih tutup mulut sama sekali. Karena tidak ada keberanian mengungkapkan, meski hanya melalui bait-bait puisi. Karena diamnya mayoritas ummat dan masyarakat kita mengandung beragam misteri. Sulit menerka ke sudut mana pendulum dukungannya.

Jadi esensi dari hadirnya puisi ini menyiratkan ada penyempitan ruang bersuara, karena rasa takut dan tertekan. Dalam kacamata psiko-sosial, ketika publik “memekikkan” rasa takut dan tertekannya, sebenarnya ini adalah “lonceng tanda bahaya”. Mengapa demikian, karena orang yang tertekan dan takut bisa saja sampai kepada titik nadir amuk terendahnya, dan akan berubah menjadi amarah yang tak bisa dikendalikan lagi. Baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain. Kalau ini terjadi tentu ini akan merugikan kita semua.