PENGINSAFAN MASSAL
Penginsafan massal memang diperlukan bukan hanya soal ISBN, melainkan juga soal lain sebagai fundamental penerbitan buku. Kalau kata Kang Arys Hilman, Ketum Ikapi, saya ini ibarat penjaga hulu penerbitan.
Hulu penerbitan itu seperti ISBN ini dan persoalan mutu buku, termasuk yang tampak “remeh temeh” seperti anatomi buku. Pak BT memang sibuk mengurusi perbedaan ‘kata pengantar’ dan ‘prakata’. Hehehe itu sebagian hobi saya. Biarlah hulu ini ada yang memikirkannya.
Banyak hari saya kini dihabiskan untuk menyusun regulasi dan pedoman di Pusat Perbukuan, pun di Badan Bahasa. Lalu, kini saya sedikit terlibat di Perpusnas.
Betul bahwa persoalan di hilir juga penting yakni bagaimana buku terjual dan penerbit dapat memperpanjang napasnya. Saya memaklumi “shifting” yang dilakukan penerbit pada saat disrupsi.
Pendapatan penerbit tradisonal utama adalah dari penjualan buku, termasuk penjualan dalam proyek pemerintah. Begitu terjadi disrupsi, penerbit mulai beralih pada penjualan konten (di luar buku). Lalu, terjadi lagi disrupsi, penerbit beralih pada model bisnis jasa penerbitan (penerbitan berbayar alias vanity publishing).
