Opini

Sawit dan Jalan Kampung Kami

Sawit dan Jalan Kampung Kami

Karet sempat menjadi andalan warga, hingga kemudian dihadapkan pada situasi harga yang rendah. Pada sisi yang lain, sawit di desa tetangga mulai panen.
Sampai di sini bisa diterka apa nasib si karet. Kemudian ditumbangkan dan diganti dengan pohon sawit yang dianggap lebih menjanjikan. Masyarakat kampung saya punya tolak ukur lain lagi soal kesuksesan. Banyak orang sukses dari berkebun sawit, begitu katanya.

Kebun-kebun karet kemudian berubah menjadi hamparan sawit. Mereka semangat, merawat sawit, agar kelak dapat menjadi andalan. Untuk sesaat apa yang diharapkan diperoleh.

Tapi lagi-lagi, ternyata berkebun sawit tak semudah yang dibayangkan. Hasil pun tidak semulus harapan. Harga sawit anjlok hingga hanya Rp. 500 per kg. Mereka kelimpungan, hasil tak memadai dengan biaya perawatan. Masih untuk ada sektor lain dapat menopang kehidupan mereka.

Kini saat harga sawit tinggi kembali, dan menyentuh angka 1.500 per kg untuk buah segar. Harapan cerah membayangi mereka.

Tapi, belakangan mereka galau. Buah sawit banyak. Sementara jalan tidak memadai. Jalan hancur. Truk kesulitan menuju pabrik. Bisa 2-3 hari nginap di jalan. Al-hasil buah banyak rusak, busuk saat sampai pabrik. Harga jual turun karena buah tak segar lagi dan dihargai Rp. 1.200 per kg begitu sampai pabrik.