Masa itu rumah sekolah jauh dari rumah. Kendaraan seperti sepeda dan sepeda motor belum ada. Jalan juga masih jalan setapak, becek, turun naik tak teratur, banyak urat kayu. Kadang kala celana atau baju terciprak lumpur. Malah, saya cukup sering jatuh terjerembab karena jalannya lincin. Celana bagian pantat kotor dan basah.
Kalau bentuk kaki dan kuku kaki, jangan dilihat lagi. Pasti hitam berlumpur, dan di sana sini ada sisa getah karet menempel hitam. Sesekali betis terkena sembatan ranting guru saat pemeriksaan kuku di hari Jumat.
Justru itu, sekolah menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Membuat sekolah penuh warna. Hal itu memberi kesan sampai hari ini. Kisahnya terasa selalu penting diceritakan.
Puluhan tahun sudah berlalu. Di kampung nun di sana –entah, mungkin pemandangan itu tak terlihat lagi. Mmarung kami di Sebugau sudah tak ada.
Rupanya, di beberapa tempat suasana begitu masih ada. Sekolah masih jauh, jalan menuju sekolah masih susah, siswa bergerombolan ke sekolah.
Semoga semangat mereka belajar tetap tinggi, dan terpelihara. Semoga kelak mereka menjadi teraju pembangunan daerah ini. (*)
