Opini

Sekolah di Daerah Terpencil

Sekolah di Daerah Terpencil

Oleh: Yusriadi

Pukul 12.45. Terik matahari menyengat kulit. Beberapa kelompok siswa SMPN di Dabong, sebuah kampung terpencil di pantai barat Pulau Borneo, berjalan kaki, pulang dari sekolah. Mereka baru selesai mengikuti kegiatan kampanye menulis yang dilaksanakan Bagian Kesos Kantor Camat Kubu. Saya diminta menjadi narasumber kegiatan untuk membangkitkan motivasi belajar itu.
Kiri kanan jalan SMPN Dabong – Trans di beberapa titik tidak ada pohon rindang yang dapat melindungi pelintas atau menghalang sengatan panas matahari. Satu-satunya pelindung hanya kerudung atau tutup kepala yang dipakai semua siswi.

Baca Juga:Speechless

Meski demikian siswa nampak akur dengan situasi itu. Panas tidak masalah bagi mereka. Keringat dan baju basah tidak mengganggu. Dari jauh saya dapat melihat mereka berjalan sambil ngobrol dan bercanda.

Ketika kami yang menggunakan motor melintasi mereka siang itu, mereka memberi jalan dan menebar senyum.
Perjalanan pulang (dan pergi) sekolah seperti ini mengingatkan saya pada hal yang umum di kampung. Saya juga pernah mengalaminya sewaktu SD kelas 1 sekitar akhir 1970. Saat masih tinggal di mmarung Sebugau. (Mmarung adalah sebutan untuk kelompok beberapa rumah di bekas ladang).