Pendidikan Seminari mewarnai gaya jurnalistiknya. Ilmu logika membawanya ke arah berpikir yang jernih, runtut, dan logis. Sehingga, membuatnya dapat melihat persoalan sampai pada hakikatnya dalam konteks yang masuk akal-bernalar. Ilmu Filsafat Antropologi membuatnya dapat mempelajari pemikiran-pemikiran besar dalam sejarah manusia. Ilmu sosial-budaya – khusus Pendidikan Humaniora menumbuhkan rasa: mengasuh, menggugah, serta mengembangkan pribadi manusia secara utuh. Tentu juga ilmu Sejarah, yang digeluti ketika mengambil kursus B1, menambah warna jurnalistiknya.
Saya berpendapat, sajian Kompas, pada umumnya bersifat bagai pisau bermata dua, mengkritisi ‘with understanding’ dan sekaligus menawarkan alternatif solusi. Sehingga, Kompas tetap kritis dilengkapi dangan fakta yang terkonfirmasi. Dengan cara sajian itu, Kompas dapat mengambil peran yang kokoh bagi pengembangan kehidupan bernegara yang semakin demokratis dan berbangsa yang majemuk dalam segala bidang.
Selamat jalan Pak Jakob. Monumen besar jurnalisme Indonesia telah engkau dirikan di bumi Indonesia. Pantas engkau menerima sebuah pujian dari seorang wartawan AS sebagai seorang ‘Pahlawan yang masih hidup’. Semoga dapat beritirahat dalam kedamaian di sana.
Pakem Tegal, 10-9-2020
(Penulis adalah guru dan dosen di Kalbar. Kini menetap di Pakem, Yogyakarta).
