Opini

Selamat Jalan Pak Jakob Oetomo

Selamat Jalan Pak Jakob Oetomo
Foto Arsip Kompas Gramedia

Sembari menjadi guru Pak Jakob juga bekerja sebagai sekretaris redalksi majalah Penabur (1956) yang dterbitkan oleh Kongregasi Ordo Fratrum Minorium (OFM/Ffransiskan). Di Penabur inilah minat dan jiwa jurnalistiknya ditumbuh-kembangkan.

Sambil bekerja, Pak Jakob juga mengambil Kursus B1 dalam ilmu Sejarah. Dilanjutkan dengan kuliah di Perguruan Tinggi Publisistik, lulus 1961. Menyelesaikan Ph. D. Di Universtas Leuven, Belgia.

Bersama Bapak Frans Seda, Bapak P.K. Ojong, menerbitkan koran baru dengan nama ‘Bentara Rakyat’. Terbit pertama 28 Juni 1965. Oleh Bung Karno, disarankan ganti nama menjadi “Kompas” – penunjuk arah.

Di awal karirnya, Pak Jakob mengerjakan dua profesi sekaligus, guru dan wartawan. Marwah kedua profesi ini sama, yaitu mendidik. Yang berbeda hanyalah sasaran dan bidang cakupannya. Guru mendidik ‘hanya’ para muridnya yang terbatas baik sasaran maupun bidangnya. Wartawan mendidik masyarakat – sangat luas – baik sasaran maupun cakupannya. Kelak, wawasan yang luas dan majemuk ini akan tercermin dalam isi koran Kompas.

Profesi kewartawanan baru dipilih secara total setelah berdiskusi dengan Pater J.W. Oudejans, OFM, bosnya di Penabur. Kalimat yang mendorong untuk memilih berprofesi total sebagai wartawan adalah ‘’Jakob, guru sudah banyak (orang), wartawan tidak.”