Tapi, saya tidak mempertanyakan lagi nama burung ini. Mungkin jenisnya lain. Kehadirannya jadi “sesuatu” sore itu.
Lebih dari itu, burung-burung ini sempat hinggap di pohon durian satu-satunya di samping rumah. Ini bisa menjadi ingatan tentang pentingnya pohon durian.
Pohon durian belum jadi perhatian orang di kampung ini. Rumah tangga yang punya pohon ini masih sedikit. Keluarga kami di sini saja baru punya dua. Satu di samping rumah, satu lagi di kebun V.pekarangan rumah lama.
Kemarin ketika panen sawit di kebun barat, saya terlihat tiga batang anak durian tumbuh di samping salah satu pohon sawit. Saya sempat menyianginya.
“Walah…apa disiangi, cabut saja”. orang tua menegur saya.
“Sayanglah…”
“Mana…pohon sawit itu masih besar. Nanti kena juga”.
O. iya…Gantian saya yang walah… Beliau terkekeh, tahu kalau saya keberatan.
“Yalah… biar…nanti siapa yang kuat saja”.
“Ya, begitu saja. Seleksi alam”.
Siapa yang akan bertahan? Kayaknya sawit. Durian mungkin akan merana.
Tapi saya masih berharap. Durian ini bisa hidup dan berkembang baik. Kelak puluhan tahun lagi bisa berbuah. Kelak anak-anak bisa mengambil buahnya. Serunya kebayang.
Lalu, pada akhirnya durian di sini tidak lagi sebatang, tapi, banyak batang. Walhal, banyak juga pilihan bagi burung-burung untuk singgah. (“)
