in

Sriti dan Durian Sebatang

IMG 20200804 WA0009

Oleh: Yusriadi

Durian yang tumbuh di samping rumah keluarga di Ulu Sambas ada sebatang. Pohonnya tinggi menjulang di antara pohon sawit.

Sore itu dalam perjalanan menuju masjid, pohon durian itu sempat menjadi sasaran hinggap burung-burung.

Ya, pada mulanya terlihat ada ratusan ekor burung terbang berkelompok. Saya berusaha memerhatikan dengan seksama untuk mencari tahu nama burung tersebut. Tetapi, meski lama melihat tak juga kenal namanya.

Hingga kemudian datang seorang anak muda yang datang mengantar adiknya –kira-kira begitu.

Ketika saya bertanya burung apa di langit itu, dia menjawab singkat.
“Sriti”.

Saya ingin tahu bahasa lokal. Tapi, kayaknya tidak ada.
“O..sriti. Orang sini sebut sriti?”
“Ya, sriti”.

Sriti itu jenis burung layang-layang. Tapi… tunggu, kelihatannya yang ada di puncak sana, macam bukan. Pertama, burung yang sudah hinggap di pohon durian sebatang ini lebih besar. Seingat saya sriti itu agak kecil. Kedua, burung yang saya lihat ini terbang lambat. Kepak sayapnya bisa dihitung satu dua. Sriti biasanya cepat. Cus! terbang ke sana-sini. Ketiga, burung ini terbang berkelompok, sriti terbang bebas sendiri-sendiri karena kata orang kampung: sriti suka mandi hujan; kata ahli walet, sriti sedang berburu makanannya. Keempat, bentuk sayap burung ini berundak-melengkung. Sriti bentuk sayapnya lancip.

Tapi, saya tidak mempertanyakan lagi nama burung ini. Mungkin jenisnya lain. Kehadirannya jadi “sesuatu” sore itu.
Lebih dari itu, burung-burung ini sempat hinggap di pohon durian satu-satunya di samping rumah. Ini bisa menjadi ingatan tentang pentingnya pohon durian.

Pohon durian belum jadi perhatian orang di kampung ini. Rumah tangga yang punya pohon ini masih sedikit. Keluarga kami di sini saja baru punya dua. Satu di samping rumah, satu lagi di kebun pekarangan rumah lama.

Kemarin ketika panen sawit di kebun barat, saya terlihat tiga batang anak durian tumbuh di samping salah satu pohon sawit. Saya sempat menyianginya.

“Walah…apa disiangi, cabut saja”. orang tua menegur saya.
“Sayanglah…”
“Mana…pohon sawit itu masih besar. Nanti kena juga”.
O. iya…Gantian saya yang walah… Beliau terkekeh, tahu kalau saya keberatan.
“Yalah… biar…nanti siapa yang kuat saja”.
“Ya, begitu saja. Seleksi alam”.

Siapa yang akan bertahan? Kayaknya sawit. Durian mungkin akan merana.
Tapi saya masih berharap. Durian ini bisa hidup dan berkembang baik. Kelak puluhan tahun lagi bisa berbuah. Kelak anak-anak bisa mengambil buahnya. Serunya kebayang.

Lalu, pada akhirnya durian di sini tidak lagi sebatang, tapi, banyak batang. Walhal, banyak juga pilihan bagi burung-burung untuk singgah. (“)

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

IMG 20200804 WA0003

Pontianak jadi Kota FUN (Friendship United Nation)

WhatsApp Image 2020 08 04 at 20.36.37

Selamatkan Indonesia dengan Al-Quran