Opini

Sriti dan Durian Sebatang

Sriti dan Durian Sebatang

Oleh: Yusriadi

Durian yang tumbuh di samping rumah keluarga di Ulu Sambas ada sebatang. Pohonnya tinggi menjulang di antara pohon sawit.

Sore itu dalam perjalanan menuju masjid, pohon durian itu sempat menjadi sasaran hinggap burung-burung.
Ya, pada mulanya terlihat ada ratusan ekor burung terbang berkelompok. Saya berusaha memerhatikan dengan seksama untuk mencari tahu nama burung tersebut. Tetapi, meski lama melihat tak juga kenal namanya.

Hingga kemudian datang seorang anak muda yang datang mengantar adiknya –kira-kira begitu.

Ketika saya bertanya burung apa di langit itu, dia menjawab singkat.
“Sriti”.

Saya ingin tahu bahasa lokal. Tapi, kayaknya tidak ada.
“O..sriti. Orang sini sebut sriti?”
“Ya, sriti”.

Sriti itu jenis burung layang-layang. Tapi… tunggu, kelihatannya yang ada di puncak sana, macam bukan. Pertama, burung yang sudah hinggap di pohon durian sebatang ini lebih besar. Seingat saya sriti itu agak kecil. Kedua, burung yang saya lihat ini terbang lambat. Kepak sayapnya bisa dihitung satu dua. Sriti biasanya cepat. Cus! terbang ke sana-sini. Ketiga, burung ini terbang berkelompok, sriti terbang bebas sendiri-sendiri karena kata orang kampung: sriti suka mandi hujan; kata ahli walet, sriti sedang berburu makanannya. Keempat, bentuk sayap burung ini berundak-melengkung. Sriti bentuk sayapnya lancip.