Bagi kamu yang pernah tinggal, atau sekadar singgah di Sambas, mungkin tidak asing dengan satu ungkapan ini, “Giye dih urang Melayu, maseh ade ajak syukurnye.”
Kalimat itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari cara pandang hidup orang-orang lama, diwariskan dari generasi ke generasi, lalu menetap menjadi kebiasaan. Bukan sekadar ucapan, tapi semacam refleks batin yang muncul dalam keseharian.
Simpelnya, ini adalah cara orang Melayu Sambas berdamai dengan hidup, menerima, lalu berusaha tetap lega.
Umpamanya ada orang bersepeda, lalu jatuh ke dalam parit. Badannya penuh lumpur, mungkin ada luka di lutut atau siku. Orang-orang sekitar pasti akan membantu. Akan ada yang mengangkat, membersihkan, atau sekadar menenangkan.
Tapi di tengah itu semua, hampir selalu ada satu suara yang muncul, entah dari siapa, “Syukur daan kanak batu palaknye, syukur daan patah tulangnye, syukur daan incalum ke parik dangan urang-urangnye.” Serta syukur-syukur lainnya dan biasanya, daftar “syukur” itu bisa panjang.
Sekilas terdengar seperti bercanda. Tapi kalau dipikir-pikir, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar celetukan. Itu adalah cara sederhana untuk menghibur yang celaka, sekaligus mengingatkan yang melihat bahwa keadaan bisa saja lebih buruk.
Kita sepakat syukur memang penting. Bahkan mungkin salah satu kunci agar hidup tetap waras. Tanpa syukur, hidup mudah sekali berubah jadi keluhan yang tidak ada ujungnya.
Tapi persoalannya, apakah syukur harus selalu menunggu orang lain lebih dulu menderita?
Kita sering diajarkan bahwa salah satu cara bersyukur adalah dengan melihat mereka yang berada di bawah kita. Tidak salah. Tapi kalau itu jadi satu-satunya cara, bukankah ada yang ganjil?
Bayangkan seseorang yang hanya bisa berjalan dengan alat bantu. Ia memang tetap bisa melangkah, tapi tidak sepenuhnya mandiri. Ada ketergantungan di situ.
Lalu, bagaimana dengan kita yang hanya bisa bersyukur setelah melihat orang lain lebih susah? Bukankah itu semacam “pincang” dalam bersyukur?
Artinya, rasa terima kasih kita tidak berdiri sendiri. Ia butuh “penderitaan orang lain” sebagai penopang.
Pertanyaannya jadi agak mengganggu, apakah hati kita memang harus menunggu luka orang lain dulu untuk bisa merasa cukup?
Di titik ini, saya justru melihat bahwa fenomena “syukur” dalam masyarakat Melayu Sambas menyimpan makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar ucapan spontan, tetapi bagian dari cara membangun karakter legawa, berterima kasih atas kejadian buruk, lalu memetiknya sebagai pelajaran berharga dalam hidup.
Sebab syukur yang utuh seharusnya tidak bergantung pada siapa yang lebih menderita. Ia seharusnya bisa lahir bahkan ketika tidak ada yang bisa dibandingkan.
Kalau tidak, kita akan terus mencari yang lebih buruk hanya agar bisa merasa cukup. Dan itu, pelan-pelan, bisa membuat kita kehilangan makna syukur yang sebenarnya.
