Bagi kamu yang pernah tinggal, atau sekadar singgah di Sambas, mungkin tidak asing dengan satu ungkapan ini, “Giye dih urang Melayu, maseh ade ajak syukurnye.”
Kalimat itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari cara pandang hidup orang-orang lama, diwariskan dari generasi ke generasi, lalu menetap menjadi kebiasaan. Bukan sekadar ucapan, tapi semacam refleks batin yang muncul dalam keseharian.
Simpelnya, ini adalah cara orang Melayu Sambas berdamai dengan hidup, menerima, lalu berusaha tetap lega.
Umpamanya ada orang bersepeda, lalu jatuh ke dalam parit. Badannya penuh lumpur, mungkin ada luka di lutut atau siku. Orang-orang sekitar pasti akan membantu. Akan ada yang mengangkat, membersihkan, atau sekadar menenangkan.
Tapi di tengah itu semua, hampir selalu ada satu suara yang muncul, entah dari siapa, “Syukur daan kanak batu palaknye, syukur daan patah tulangnye, syukur daan incalum ke parik dangan urang-urangnye.” Serta syukur-syukur lainnya dan biasanya, daftar “syukur” itu bisa panjang.
Sekilas terdengar seperti bercanda. Tapi kalau dipikir-pikir, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar celetukan. Itu adalah cara sederhana untuk menghibur yang celaka, sekaligus mengingatkan yang melihat bahwa keadaan bisa saja lebih buruk.
