Opini

Syukur yang Nyaris Pincang

Syukur yang Nyaris Pincang

Kita sepakat syukur memang penting. Bahkan mungkin salah satu kunci agar hidup tetap waras. Tanpa syukur, hidup mudah sekali berubah jadi keluhan yang tidak ada ujungnya.

Tapi persoalannya, apakah syukur harus selalu menunggu orang lain lebih dulu menderita?

Kita sering diajarkan bahwa salah satu cara bersyukur adalah dengan melihat mereka yang berada di bawah kita. Tidak salah. Tapi kalau itu jadi satu-satunya cara, bukankah ada yang ganjil?

Bayangkan seseorang yang hanya bisa berjalan dengan alat bantu. Ia memang tetap bisa melangkah, tapi tidak sepenuhnya mandiri. Ada ketergantungan di situ.

Lalu, bagaimana dengan kita yang hanya bisa bersyukur setelah melihat orang lain lebih susah? Bukankah itu semacam “pincang” dalam bersyukur?

Artinya, rasa terima kasih kita tidak berdiri sendiri. Ia butuh “penderitaan orang lain” sebagai penopang.

Pertanyaannya jadi agak mengganggu, apakah hati kita memang harus menunggu luka orang lain dulu untuk bisa merasa cukup?

Di titik ini, saya justru melihat bahwa fenomena “syukur” dalam masyarakat Melayu Sambas menyimpan makna yang lebih dalam. Ia bukan sekadar ucapan spontan, tetapi bagian dari cara membangun karakter legawa, berterima kasih atas kejadian buruk, lalu memetiknya sebagai pelajaran berharga dalam hidup.