Along Siwi yang malam itu mengenakan jilbab bewarna kuning bak puteri keraton Sambas yang memukau. Ia membenarkan perkiraan penulis novel Gerimis, T(el)epati! memang bermaksud tepati. Cerita itu menceritakan tentang komitmen dan kepercayaan dua sejoli. Tak perlu bertanya-tanya, tapi dengan telepati keduanya dapat jawaban. Sayangnya, ketika kekasih hati jauh di mata rupanya tak menepati janji, telepati pudar, sinyal menghilang. Banyak pertanyaan diberikan padahal pemegang janji tahu, pertanyaan tersebut tak perlu diajukan. Sebab, telepati. Sama-sama mengetahui. Janji harus ditepati!
Di penghujung acara, Along Siwi bercerita tentang tanggapan orang tuanya, Ayahnya sangat takjub karena anaknya bekarya. Buku Along dibawa sang ayah kemana-mana. Tetangga-tetangga diceritakan, Anak saya nulis buku, ini buku anak saya. Tak hanya itu, bangganya pun ia sampaikan pada Wakil Bupati Sambas.
Jadi buku itu diberikan kepada Wakil Bupati Sambas, cerita Along yang disambut tawa dan tepuk tangan.
