Seusai shalat jumat, beberapa anggota jamaah mendekati saya dan menyampaikan sedikit kekesalan dan nada protes, mengapa bukan saya yang menjadi imam, mengapa saya mempersilakan orang lain yang dianggap belum layak menjadi imam.
Saya betul betul istigfar kepada Allah, dan minta maaf kepada mereka, saya salah dan merasa terjebak dengan penampilan bajunya seperti ulama, dan dia berada di posisi yang biasa ditempati imam.
Begitu sampai di rumah, Pengurus Masjid menelpon lagi menyampaikan kritikan dan kekesalan para jamaah karena diimami shalat jumat oleh imam yang bacaannya belum pantas.
Sekali lagi, saya sampaikan mohon maaf atas kesalahan, kekurangan dan keterbatasan ini.
Bagi seorang alim yang mengerti dan paham tentang ilmu Fikih imam shalat, tidak berani berada di posisi imam dan tampil menjadi imam shalat, jika tahu kekurangan dirinya mengenai bacaan Al-Qur’an, dan pengetahuan hukum-hukum Fikih shalat berjamaah serta syarat lainnya.
Terkadang kita keliru karena menilai seseorang berdasarkan tampilan lahiriahnya saja, walaupun terkadang juga pakaian sebagai identitas.
Pontianak, 9 September 2020
*Gambar pada tulisan di atas sekedar ilustrasi. Sumber internet.
