Opini

TERKADANG KITA TERJEBAK DENGAN TAMPILAN BAJU

TERKADANG KITA TERJEBAK DENGAN TAMPILAN BAJU

Oleh: Wajidi Sayadi

Di sela-sela menjalankan amanah di arena MTQ XXVIII tingkat Provinsi Kalimantan Barat tahun 2020, tiba-tiba teringat suatu pengalaman menarik dan bisa menjadi pelajaran bernilai.

Beberapa tahun lalu di suatu masjid di Pontianak, saya turun dari mimbar usai menyampaikan khutbah jumat, saya melihat seseorang dengan pakaian serba putih lengkap dengan sorban seperti ulama Timur Tengah.

Saya berpikiran positif, sebagaimana kebiasaan saya selalu Ta’zhim, penghormatan kepada para ulama, saya tidak berani berdiri dan tampil imam di depan para ulama dan guru-guru kecuali diizinkan dan dipersilakan,

Atas dasar pertimbangan inilah, maka saya mempersilakan orang yang berbaju lengkap dengan sorban seperti ulama besar, agar maju menjadi imam shalat jumat.
Orang tersebut tidak menolak, langsung tancap gas maju di posisi imam.

Begitu memulai membaca surat Al-Fatihah, hati saya langsung tersentak (bukan tersentuh) dan sangat terganggu karena bacaan Al-Fatihah nya “tidak karu-karuan”, tidak sesuai kaedah ilmu Tajwid, pokoknya tidak sesuai seperti yang saya bayangkan dengan tampilan bajunya.

Sungguh ampuuun ya Allah, rintihan dalam hati, air mata tak terasa sedikit menetes, menanggung rasa bersalah, mengapa saya persilakan dia jadi imam, mengapa bukan saya yang menjadi imam shalat, padahal saya yang khatib. Rasa bersalah bergoncang dalam hati ketika sedang shalat, benar-benar mengganggu ke-khusyu’-an.