Oleh: Nur Iskandar
Prolog: Pada hari Sabtu, 13 Juni 2020 pukul 22.39 (malam) Ketua Yayasan Hamid Alkadrie, Anshari Dimyati mengirim pesan WhatsApp ke saya: “Assalamu’alaikum. Bg Nur, bsok Ami dolah Nasdem ngajak ktmu di kantor. Bs k?”
Saya baru membaca pesan WA itu pada waktu subuh pukul 03.51, karena tidur lebih awal agar stamina tegap hendak menyetir kendaraan sendiri menuju Kota Amoy (Singkawang). Jaraknya lebih kurang 180 Km. Rencana pergi – pulang alias PP lantaran masih suasana pandemi Covid-19, di mana jangan keluar kota jika tidak terlalu penting. Nah, perjalanan ke Singkawang bagi saya penting karena ada 110 bibit petai hendak ditanam di kawasan kampus Singkawang Educational Training Centre (SETC) yang kelak akan kami jelmakan sebagai Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa (STIBa), atau bahkan Universitas Bahasa.
“Subuh ini ke Skw. Siang udah pulang. Insyaallah sore sampe. Jam berapa mau ketemu Ami, atau udah tadi malam?” Begitu balasan saya.
Aan, sapaan Anshari Dimyati–dosen hukum di Universitas Muhammadiyah Pontianak ini ternyata subuh-subuh sudah bangun. Pukul 04.30 dia balas, “Blm bg. Rencna jam 3 sore.”
Kemudian kami klopkan dengan rinci, “Ok,” kata saya masih via WA. “Kantor dekat Mujahidin keh Bg? Depan SPBU OSO ye?”
Kata Aan, “BLKI bg nur.”
Saya respon, “Ok.”
