Tapi saya coba juga mengirim pesan WA, dan hasilnya, pesan itu hanya tercentang satu. Tanda tidak terkirim atau belum sampai di nomor beliau. Sekali lagi pesan yang kurang lebih sama saya kirim melalui layanan pesan singkat atau SMS.
Setelah menunggu beberapa saat ternyata pesan SMS itu berbalas. Pak Tomi bersedia diajak bertemu. Beliau memberi alamat rumahnya. Setelah Isya, kami pun menuju rumah beliau.
Kami disambut dengan ramah dan terbuka. Setelah itu saya sampai maksud kedatangan kami ingin silaturrahmi dan sekaligus ingin tahu apa yang sudah ditulis orang tentang Sanggau.
“Nama bapak disebut-sebut sumber kami, sebagai penulis sejarah Sanggau”.
“Ah, saya hanya menulis sedikit-sedikit. Tidak seberapa. Entah bisa ndak dipakai,” katanya merendah.
Beliau masuk ke dalam dan kemudian keluar dengan setumpuk buku yang terbungkus plastik dan beberapa lembaran kertas yang dilaminating. Buku dan dokumen itu diletakkan di depan kami.
“Coba lihat di sini, mana yang sesuai,” katanya.
Kami melihat satu persatu buku itu dengan takjub. Luar biasa! Banyak sekali bahannya.
Ya, kesediaan beliau menunjukkan bahan kepada kami memperlihatkan sifat terbuka beliau berikutnya. Kesannya apa yang beliau punya dikeluarkan semua. Ketakjuban kami bertambah. Ternyata buku yang dikeluarkan itu buku tulisan sendiri. Sebagian besar tentang Sanggau, khususnya sejarah, budaya, sastra lisan Sanggau.
