Paras si ibu muda yang bening ini lantas bersemu merah. Sementara si bapak geleng-geleng kepala. “Syukur kejadian itu tak terlihat istri,” katanya membatin. “Kalau saja kelihatan istri, dikira ada apa-apanya lagi,” imbuhnya seraya berujar syukur kepada Tuhan, tetapi bola matanya tetap menatap langkah si ibu tersebut nan pindah mobil sebelah.
Ketika kejadian ini dikisahkan kepada sang istri, istri pun melengos. Ada juga cemburu terukir segaris di wajahnya. “Syukur tak didatangi suaminya, kalau suaminya keluar maka bisa bertinju akibat salah pengertian.”
Tetapi ketika kisah ini disampaikan kepada rekan sejawatnya, maka gelak tawa pun membuncah. “Untung dong. Ngape tak lajakkan jak sekalian. obil langsung jalan, pura-pura tidak tahu, kura-kura dalam perahu?” goda seorang kawan. Seorang rekan lainnya lagi berkata, “Kalau ketemu orang yang kita kenal, pasti berkata [eih bile pula sohib kite nih kawen agik]?” ujarnya tekeruk-keruk ketawa. “Inilah akibat penyakit lupa. Mudahnya orang lupa walau umur masih muda-muda….” (Nuris)
