Oleh: Leo Sutrisno
Hari ini, 31 Desember 2019, pukul 20:34 WIB. Hampir di semua media massa elektronik dan media sosial dipenuhi tayangan-tayangan menyambut tahun baru tahun 2020. Semua berlomba dengan segala macam kemeriahannya, menyambut kehadiran tahun 2020.
Seperti tahun lalu dan tahun-tahun yang telah lewat, sebagian orang berefleksi apa yang telah terjadi di tahun 2019 dan apa yang diharapkan akan terjadi di tahun 2020, baik bagi diri sendiri sebagai individu maupun bagi orang lain sebagi kelompok.
Kebetulan, tahun 2019 ini bagi masyarakat Indonesia merupakan tahun politik, tahun pemilihan presiden untuk perioleh 2019-2024. Karena waktu yang panjang, sekitar delapan bulan dan hanya diikuti dua pasang calon, terjadilah polarisasi posisi calon pemilih di seluruh Indonnesia.
‘Konflik’ antar pendukung terasa sangat kental baik di media massa, media sosial maupun ‘dikopi darat’. Bukan hanya saling membela visi dan misi calon masing-masing yang lebih unggul dari lawan tetapi juga sering disertai berbagai bentuk kampanye negatif. Bahkan, sering muncul kata atau ungkapan yang jauh dari etika berkomunikasi.
Mengapa dapat terjadi, padahal kita selalu mengagungkan dan membanggakan diri sebagai bangsa yang penuh sopan santun? Disadari atau tidak, sesungguhnya kita hidup dalam tatanan asyarakat yang mengedepankan kedamaian sosial, kedamaian di masyarakat (sekitar).
