in ,

Antusias Peserta Webinar Sultan Hamid II Pengkhianat atau Pahlawan

teraju.id, Pontianak – Seratus peserta kuota webinar menyoal Sultan Hamid II pengkhianat atau Pahlawan Nasional terisi penuh. 160 orang mengikuti siaran langsung (live) di Channel Youtube teraju.id dan 1.075 pemirsa mengikuti tayangan dalam dua jam jeda kegiatan di channel Youtube teraju.id, Minggu, 21/6/20.

Host, Yaser Ace membuka acara pada pukul 15.30 bada Ashar diikuti Lagu Kebangsaan Indonesia Raya serta doa bersama Ustadz HM Arif, S.Ag. Setelah itu akademisi Fisip Untan Dr Syarifah Ema Rahmaniah, M.Si memimpin jalannya webinar dengan asyik.

Wakil Ketua MPR RI, Dr HM Hidayat Nur Wahid, MA membuka cerita dengan terminologi jas merah jangan dipelesetkan dengan justru meninggalkan penelitian terhadap jasa para pahlawan. Jas merah juga mesti diikuti dengan jas hijau, yakni jangan melupakan jasa para ulama dan umara di Nusantara yang digerakkan para kyai, ulama, habaib, pondok-pondok pesantren.

Pria yang akrab disapa HNW ini menyebut peran para sultan di Tanah Air tak terkecuali Sultan Hamid II dengan jasa merancang lambang negara serta pengakuan kedaulatan kemerdekaan Indonesia.

Gubernur Kalbar, H Sutarmidji, SH, M.Hum menegaskan dalam webinar, bahwa diakui atau tidak sebagai pahlawan nasional, jasa-jasa Sultan Hamid II telah ada di dalam dada setiap warga Kalbar. Ia mendorong studi-studi ilmiah demi menguak peran besar perjuangan Sultan Hamid II. “Hasil penelitian yang ada terus disosialisasikan,” ungkapnya seraya menyatakan bahwa Jalan Sultan Hamid II diusulkan oleh dirinya bersama Syarif Achmad dan Simon Alkadrie untuk menunjukkan sikap warga Pontianak bahwa Sultan Hamid adalah pahlawan. Nama ayahnya juga disematkan sebagai nama RSUD Kota Pontianak.

“Itu semua rangkaian kita memperjuangkan Sultan Hamid sebagai pahlawan nasional,” tambahnya. Midji, demikian ia akrab disapa menambahkan bahwa dia sudah dua kali meneken pengajuan pahlawan nasional untuk Hamid,masing-masing sebagai walikota dan gubernur Kalbar.

Webinar semakin seru dengan pernyataan H Syarif Abdullah Alkadrie, SH, MH. Wakil rakyat Kalbar di DPR RI ini menyatakan bahwa era 1945-1950 masa krisis Indonesia merdeka. Momentum pengakuan kedaulatan dapat diperjuangkan oleh Sultan Hamid. “Jika tidak ada pengakuan kedaulatan di arena KMB, entah apa jadinya Indonesia,” imbuhnya.

Tokoh-tokoh muda juga berteriak lantang. Ketua Yayasan Hamid, Anshari Dimyati mengupas perjalanan yayasan memperjuangkan Hamid sebagai pahlawan nasional. Penolakan Kemensos menurutnya tidak masuk akal, karena alat bukti sebanyak dua troli telah disampaikan, :Entah dibaca entah tidak,: keluhnya. Tentang peristiwa APRA/Westerling, Anshari menegaskan sudah ditolak pengadilan dengan tuduhan primair itu tidak terbukti.

Peran Sultan Hamid merancang lambang negara juga tidak tertolak. Begitupula jawaban Kemensos bahwa hubungan timbal balik Hamid dengan Sultan HB IX adalah absurd. “Subjektif,” kata Anshari.

Pengamat sejarah nasional JJ Rizal, SS tidaklagi berbicara soal Hamid. Dia menjelaskan bahwa sikap kritis muncul soal pengajuan gelar pahlawan nasional. Sultan Hasanuddin dipersoal. Begitupula Imam Bonjol. Selanjutnya M Natsir sampai Sjafruddin Prawira Negara. Ia juga menyebut pro-kontra pengusulan Abdurahman Wahid dan Soeharto sebagai pahlawan nasional. “Gelar pahlawan itu adalah tindakan politis,” katanya.

Testimoni sepanjang webinar tak kalah menarik. Penulis buku Sejarah yang Hilang, Mahendra Petrus bicara gamblang. Bahwa peran Hamid harus diakui. “Adalah rugi besar jika peranan seputar RIS tak diungkap dalam sejarah nasional Indonesia.Jangan sampai ada perasaan unitaris akan lemah jika peran perjuangan era RIS dibongkar dengan sesungguhnya.”

Sejarah hukum lambang negara juga dikuak oleh Turiman Faturahman sehingga mendapatkan aplaus audies. Gubernur juga menyarankan agar manuskrip karya Hamid dan Yamin dipajang di museum. “Agar semua orang tahu goresan tangan Hamid secara langsung.” Ini untuk menjawab tudingan Hamid bukan perancang tunggal lambang negara.

Dekan Fakultas Hukum Untan, Dr Hasyim Azizurahman menakar peristiwa makar yang dituduhkan kepada Hamid lewat ilmu pidana. Niat Hamid tidaklah terbukti sebagai pembunuhan. Dia tidak melakukan makar kepada negara.

Banyak guru besar yang mengikuti webinar ini seperti Prof Dr Syarif Ibrahim Alkadrie, Prof Dr Dien Madjid, Prof Dr Hamid Darmadi dan Prof Dr H Chairil Effendy. Juga banyak kalangan doktor serta pengamat atau peminat sejarah.

Ketua DHD 45 Kalbar Syafaruddin Usman semula menyatakan sedia jadi penanggap narasumber, namun gagalkarena tidak bisa masuk aplikasi webinar. (kan)

Berbagi itu indah:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

BPW KKSS KALBAR Akan Gelar Acara Halal Bihalal Virtual

“Quiet”