Berita

Arwana, Band Spesialis Krisis?

Arwana, Band Spesialis Krisis?

Seperti halnya Sultan Hamid, Arwana menjadi berapi-api bila membicarakan dan memperjuangkan “Kalimantan Barat”. Satu di ranah politik. Satu di ranah musik.

Band yang digawangi Yudi Chaniago, Hendri Lamiri, Yan Mahmud dan Wawan ini menjadi gerbong musisi Kalbar ke panggung nasional. Mereka band pertama yang lahir dari Sony Music, sebelum Sheila on 7, rif dan Padi melambung tinggi. Merekalah band yang membawa warna etnik mendayu menjadi komersil, sebelum diikuti Radja, ST12, Ungu, Kangen band, dll.

“Saat mengaransemen musik, saya tidak menjadikan unsur etnik menjadi tempelan. Saya membuat etniknya dulu baru diberi sentuhan modern,” ujar Yudi saat berbincang santai dari Jeruju menuju seberang kota, Tanjung Raya.

Kini Arwana memasuki usia yang ke-25. Suatu bilangan usia yang tidak bisa dikatakan muda. Dalam industri musik nasional, tak banyak band yang mampu mencapainya. Hanya band besar dengan totalitas bermusik dan mempunyai penggemar loyallah yang mampu bertahan. Dewa, Padi, Slank dan… Arwana berada dalam satu barisan tersebut. Membanggakan!

Akhir Oktober ini, syukuran 25 tahun Arwana dikemas khidmat bertajuk Festival Nadi Khatulistiwa. Festival yang dihelat memperingati hari lahir kota Pontianak menjadi ikhtiar Arwana dan teraju.id untuk membangkitkan asa kolektif menghadapi pandemi. Bahwa kita semua yakin: kita mampu melewati krisis ini. Asal bersatu, bersama-sama.