teraju.id, Pontianak – 19 angka keramat! Bagi umat Hindu, ini hari raya Nyepi. Bagi umat Islam Nusantara, ini hari raya Idul Fitri (Muhammadiyah dengan metode hisab/perhitungan), disusul, Sabtu, 20 Maret hari raya Idul Fitri berdasarkan metode rukyat yang ditetapkan oleh pemerintah melalui teropong hilal…artinya masih hari akhir Ramadhan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah/ampunan. Hari-hari penuh semangat spiritual.
Rasanya sayang jika melewatkan dua hari raya di atas bagi kemajemukan Indonesia. Bahwa keluarga besar Muhammadiyah di Pulau Dewata merasakan Bajra Sandhi dengan tiga level arsitekturalnya: masa pra sejarah, sejarah dan modern. Tugu landmark Bali setinggi 45 meter ini simbolisasi perdjoeangan meraih kemerdekaan. Spirit nasionalisme dibungkus teologi – Ketuhanan Yang Maha Esa. Elok sekali kita berdjoeang saling toleransi sesama anak negeri dalam menjaga proklamasi dan mengisi kemerdekaan dengan “nyepi”, merenungkan kembali apakah pantas kita mewarnai perjalanan hidup ini dengan begini-begini saja, ataukah perlu teratas menunjukkan kualitas terbaik sebagaimana inspirasi para syuhada? Para pejuang? Para pahlawan kita masa lalu?
Hindu Bali dan Muhammadiyah di Bali sepakat untuk toleransi tingkat tinggi. Bahwa takbiran tak pakai loudspeaker demi menghargai umat Hindu yang merayakan Nyepi. Begitupula sebaliknya, umat Hindu Bali tak melarang salat Ied di lapangan…
Indah sekali toleransi di negeri ini. Sebuah modal damai untuk membangun kesejahteraan bersama. Buah dari iman dan kepercayaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Beginilah penerapan Pancasila. Rakyat pun pancasilais tak hanya retorika dan retoris. Aplikatif. Membumi. Membagi arti. Tanpa basa-basi.

Sebelumnya, di awal Ramadhan, umat Islam Indonesia juga menunjukkan toleransi tingkat tinggi di tengah ketegangan kawasan Teluk di Timur Tengah. Umat Islam merayakan Ramadhan dengan damai di tengah umat Budha dan Kong Hu Chu merayakan Imlek dan Cap Go Meh. Di Kalbar khususnya bahkan ada arakan naga dan tatung. Sosok kebal senjata tajam maupun tusukan. Semua berlangsung aman, damai, tanpa ada gangguan satu sama lain. Kita bisa hidup berdampingan secara damai. Sekaligus saling menikmati kelebihan masing-masing.
Di sinilah letak keindahan dari keberagaman. Bagaikan pelangi. Ia melengkung indah di ufuk tinggi. Bagaikan mutiara bertaburan. Laksana intan berlian. Hanya indah ketika kaya warna. Menjadi miskin kalau hanya satu warna saja.
Kekayaan toleransi ini harus kita jaga dan wariskan. Sebab tanpa dipupuk dan dipelihara, goresan konflik kecil pun bisa menjadi besar. Dan kita sudah kerap mengalami hal itu secara laten. Maka tetua mengingatkan postulat sastrawi, kalah jadi abu, menang pun jadi arang.
Seraya menikmati elan vital perdjoeangan seperti tugu Bajra Sandhi, kita rawat keindonesiaan kita seraya mendoakan perang di berbagai kawasan mereda. Bahkan bisa hidup berdampingan secara damai.
Tak salah kita berdoa, dan akan lebih baik jika anak-anak bangsa ini tampil ke pentas dunia menjadi agen perdamaian. Juru selamat. Rahmatan Lil ‘Alamiin.
Nyepi? Idul Fitri? Bajra Sandhi? Rawat NKRI dengan toleransi tingkat tinggi? Mesti! *
