Daerah

Berusaha Mengukur Diri

Berusaha Mengukur Diri

“Malah Pak, saya lebih suka tempat KKL yang tak ada sinyal, tak ada listrik, jauh terpencil. Di tempat ini mahasiswa bisa lebih banyak belajar tentang kehidupan,” kata saya.

Panjang cerita, lelaki itu mengatakan dia menawarkan rumahnya sebagai posko mahasiswa. Rumah yang bagus. Dia dan keluarganya nanti akan tinggal di rumah samping. Dia mengalah.

“Wah, Pak?”
Sungguh, saya merasa tak enak.
“Benar, Pak. Saya mbayangkan anak saya nanti. Anak saya nanti akan KKL juga, akan ketemu yang seperti ini”.

Katanya, dia berharap anaknya kelak bisa KKL dengan lancar, diterima oleh warga, mendapat tempat menginap yang layak. “Saya mikirnya begitu,” tambahnya.

Saya mengangguk. Saya mengagumi cara pikir lelaki itu. Begitulah seharusnya. Seharusnya banyak orang berpikir dan bersikap begitu. Dalam hal begini –memberi layanan, mengukur baju di badan sendiri. Di sini, dia memuliakan tamu.

Saya jadi ingat beberapa tempat yang pernah enggan menerima mahasiswa KKL. Ingat juga sikap-sikap tak peduli terhadap orang yang datang, padahal kedatangan mahasiswa KKL itu untuk membantu warga.

Ya Allah, tunjukkan kami jalan yang lurus. (*)