Duduk di warung kopi yang ramai dalam beberapa jam ternyata dapat menangkap beberapa informasi, baik dari meja yang sama atau berdekatan. Seperti warung-warung kopi di Pontianak dengan meja yang tidak memiliki jarak jauh, maka dapat dengan mudah mendengar sedikit demi sedikit informasi dari meja sebelah. Menjadi pendengar diam-diam memang terkesan tidak sopan, tapi keadaanlah yang membuat pengunjung mau tidak mau turut mendapatkaan pengalaman seperti itu. Antara ngopi dan penyebaran informasi, keduanya bertaut akrab.
Reza, seorang mahasiswa berstatus semester akhir yang hampir tiap paginya dihabiskan untuk memenuhi meja di salah satu warung kopi ternama di kota khatulistiwa ini. Menyandang status sebagai mahasiswa tak berarti membatasi pergaulannya hanya di ruang lingkup kampus saja. Beberapa kali ia berkesempatan ngopi dalam rangka menemani orang penting yang biasanya dari luar kota, akunya itu merupakan rekan kerja orang tuanya.
Tetapi sebagian besar kesempatannya ke warung kopi hanya untuk bersenang-senang dengan teman sepantaran, sesekali juga membahas tentang kegiatan. Yang menarik, mahasiswa fakultas dengan julukan kampus biru muda ini bahkan sudah akrab dengan kakak-kakak pelayan disana, saking seringnya. Ditambah lagi Ia mengakui bahwasanya warung kopi menjadi tempat menarik untuk membuat atau mendengarkan diskusi mengenai isu-isu masa kini. Jadi, dalam aktivitas ngopi dibenarkan tentang adanya penyebaran informasi-informasi di dalamnya.
