Belum lagi pengurus Ika Untan menjawab, sang rektor yang pakar kimia ini buru-buru menambahkan, bahwa dia akan menyiapkan “narkoba”, yakni singkatan dari: nagasari, keroket, dan belodar. Maka tak pelak lagi tawa pun menyeringai karena tidak mungkin rektor menyuguhkan narkoba yang memabokkan.
Tak kalah seru bumbu tawa selama bersilaturahmi ini, Walikota yang duduk didampingi Sekjen Ika, Firdaus Zarin bercerita soal dinamika pembangunan Kota Pontianak. Dimulai dengan polemik di sejumlah masjid sebagai pusat ibadah dan muamalah umat Islam.
“Ada masjid yang pengurusnya berbeda pendapat sangat keras. Memilih ketua masjid sampai voting,” ungkap Firdaus Zarin. “Saya tak akan datang kalau diundang dimana masjid tersebut para pengurusnya bertikai,” sambung Walikota. Dia mau pengurus masjid rukun dan mengedepankan musyawarah sebagaimana ajaran Islam yang rahmatan lil’alamiin.
“Selain voting, ada juga pengurus masjid yang saling jegal dengan cara membuat tata tertib, bahwa yang bisa menjadi ketua harus yang fasih ketika menjadi imam. Maka kandidat yang tidak bisa menjadi imam akan tersingkir,” lanjut Firdaus yang disambut gelak tawa hadirin karena model partai politik telah diserap sampai masuk ke struktur pengurus masjid. Dan selama ini biasanya seluruh masjid menempatkan musyawarah maupun mufakat serta berujung aklamasi.
