Sejak 1925, pendidikan yang diharapkan wakif Haji Arif kepada nazir adalah tergalinya nilai-nilai Islam universal dalam cakupan “Islamic University”. Dengan demikian pola belajar mengaji Alquran dan hadits serta cabang-cabang ilmu Islam lainnya dipelajari di bangku sekolah. Kini terbentang luas sejak Taman Kanak-Kanak, SD, SMP/Mts, SMA/Aliyah. Ribuan alumni telah dihasilkannya dan hingga kini terus beroperasi dengan berbagai dinamika tata kelola pendidikan formal di Indonesia yang bergelut dengan Pandemi Covid-19 di mana mau tidak mau–suka tidak suka ada penurunan jumlah animo pendaftar siswa-siswi baru. Hal serupa terjadi di berbagai tempat lainnya. Namun Perguruan Islamiyah telah menapakkan sejarah wakaf produktif tertua di Kota Pontianak. Bahkan setahun lebih mula kelahirannya ketimbang organisasi muslim terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama oleh KH Hasyim Asy’ari–kakek dari mantan Presiden RI Abdurrachman Wahid bin Wachid Hasyim bin Hasyim Asy’ari yang kita kerap sapa dengan Gus Dur.
Perguruan Islamiyah juga melahirkan pemimpin kelas kakap. Tercatat sejak Bupati hingga anggota DPR RI.
Tercatat nama Bupati Kabupaten Kubu Raya, H Muda Mahendrawan, SH. Ia adalah jebolan Islamiyah. “Saya belajar mengaji dan sholat di sini,” kata pria yang punya selogan “Kepong Bakol” sehingga digelari “Bupati Muda Menanjak” di kabupaten pemekaran Kabupaten Pontianak yang menjadi Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Kubu Raya.
