Masih menurut Kompas.com, perwakilan dari Forbis Surakarta yang juga pelaksana seminar, Bambang Haryanto, seminar 1998 itu bertujuan untuk meminta masukan dari pakar setelah kerusuhan 1998. “Saat itu yang terkenal Ibu Sri Mulyani. Kemudian ngobrol sama Pak Jokowi yang saat itu pengusaha kayu. Pak Jokowi bersedia dan seminar diselenggarakan pada hari Jumat itu,” terang dia. Dia mengatakan, seminar ekonomi tersebut sekaligus bertujuan untuk membangkitkan ekonomi selepas kerusuhan 1998. “Kita ingin memberikan semacam prospek ke depannya, hambatannya apa. Pengusaha Solo butuh masukan pakar. Pakarnya satu yang kami percayai satu dan moncer saat itu Bu Sri Mulyani,” ucapnya.
Sri Mulyani saat reformasi bergulir memang bercahaya terang. Dia juga diminta untuk membuka perkuliahan magister management di Universitas Tanjungpura. Sahabat dekatnya dari Fakultas Ekonomi Untan, Dr Memet Agustiar menghadirkannya. Dan ulasan Sri Mulyani soal hutang bangsa amat sangat ciamik. “Saya kalau jadi Menteri Keuangan, tak akan bisa tidur nyenyak melihat begitu banyaknya pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan bangsa,” ungkapnya.
Para mahasiswa Magister Management Untan yang mengikuti Stadium Generale (SG) pasti tahu bagaimana kepiawaian ulasan Sri Mulyani, si anak guru besar kelahiran Lampung tersebut. (kan)
