Berita

Kalbar Rentan Konflik SARA, Gubernur Cornelis Diminta Berhati-hati

Kalbar Rentan Konflik SARA, Gubernur Cornelis Diminta Berhati-hati
Ketegangan di Kalbar seperti terjadi di Kota Pontianak bisa dihindari dengan setiap tokoh dan anggota masyarakat menjaga kata-katanya. Mari kita wujudkan hidup harmonis di Kalbar, dengan mengedepankan demokrasi yang menjunjung tinggi hukum. Foto blokade jalan di Bundaran Untan saat demo Persatuan Orang Melayu menyusul pengusiran ulama FPI, Sabtu, 6/5/17. Foto Teraju/Difa

Perihal tersebut telah menyulut aksi lebih luas, Ato Ismail berharap ke depan, Gubernur Cornelis sebagai kepala daerah yang mengayomi semua etnis dan agama, bisa lebih bijak dalam berkata-kata, sehingga situasi masyarakat Kalbar dapat senantiasa aman dan damai. Andaikata Gubernur Cornelis merasa tersinggung dengan ungkapan tokoh seperti Habib Rizieq atau Tengku Zulkarnain, atau organisasi FPI, sebaiknya menggunakan jalur hukum dan dibawa ke pengadilan. Sehingga tidak menggunakan cara kasar berupa tindak pengusiran. Hal ini bisa memancing ketegangan.

“Kami para pengusaha butuh situasi aman agar dapat beraktivitas secara lancar. Aktivitas pengusaha adalah bagian penting juga dalam pembangunan dan ikhtiar mensejahterakan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu situasi Kota Pontianak telah kembali normal dalam pengawasan aparat keamanan pasca aksi penolakan ulama di Bandara Soepadio yang disusul demo Persatuan Orang Melayu (POM). Tampak mayoritas warga Kota Pontianak pada khususnya dan Kalbar pada umumnya cinta damai. (Nuris)

1 Komentar

  1. Dwi Wahyudi
    May 8, 2017 pukul 8:46 am

    Sepakat Bang, seharusnya sebagai seorang pemimpin tertinggi Beliau harus bisa mengayomi dan menjadi penengah bukan malah jadi pemanas situasi. Btw, tulisannya menarik Bang.

Komentar ditutup.