Perihal tersebut telah menyulut aksi lebih luas, Ato Ismail berharap ke depan, Gubernur Cornelis sebagai kepala daerah yang mengayomi semua etnis dan agama, bisa lebih bijak dalam berkata-kata, sehingga situasi masyarakat Kalbar dapat senantiasa aman dan damai. Andaikata Gubernur Cornelis merasa tersinggung dengan ungkapan tokoh seperti Habib Rizieq atau Tengku Zulkarnain, atau organisasi FPI, sebaiknya menggunakan jalur hukum dan dibawa ke pengadilan. Sehingga tidak menggunakan cara kasar berupa tindak pengusiran. Hal ini bisa memancing ketegangan.
“Kami para pengusaha butuh situasi aman agar dapat beraktivitas secara lancar. Aktivitas pengusaha adalah bagian penting juga dalam pembangunan dan ikhtiar mensejahterakan masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu situasi Kota Pontianak telah kembali normal dalam pengawasan aparat keamanan pasca aksi penolakan ulama di Bandara Soepadio yang disusul demo Persatuan Orang Melayu (POM). Tampak mayoritas warga Kota Pontianak pada khususnya dan Kalbar pada umumnya cinta damai. (Nuris)

Sepakat Bang, seharusnya sebagai seorang pemimpin tertinggi Beliau harus bisa mengayomi dan menjadi penengah bukan malah jadi pemanas situasi. Btw, tulisannya menarik Bang.