Masyarakat bisa bercerita tentang peristiwa penting di tempat mereka melalui tanda-tanda alam yang ada. “Ini adalah banjir terparah yang kami tahu selama ini, karena ikut merendam tikung tempat lebah membentu sarang dan memproduksi madu hutan di sekitar Danau Sentarum. Akibatnya produksi madu nyaris tidak ada. Syukur tahun 2006 mulai pulih lagi,” tambah Ade.
Isu lainnya yang dibahas adalah terkait nama. Untuk sungai yang sama, masyarakat memakai nama yang berbeda. Masyarakat di hulu menyebutnya sebagai Sungai Labian, sementara masyarakat di hilir akrab dengan nama Sungai Leboyan. Bagaimana masyarakat yang tinggal di tengah koridor? Ada yang memakai nama Labian, ada pula yang menyebutnya Leboyan. Menarik, kan?
“Walaupun berbeda, tapi artinya sama, Pak Herma,” kata Pak Yosep Unja, salah satu tokoh masyarakat dari Desa Labian.
“Oh ya? Wah, ini menarik untuk jadi pengetahuan kita bersama,” responku dengan penuh antusias. Dalam pertemuan ini, aku diminta oleh panitia menjadi co-fasilitator bersama Yohanes Janting, senior kami di LSM Pemberdayaan Pengelolaan Sumber Daya Alam Kerakyatan (PPSDAK), bagian dari Konsorsium Pancur Kasih.
