“Benar, Pak Herma. Nama “Labian” atau “Leboyan” artinya berlimpah atau berlebih, baik airnya, ikannya, hewan buruan, maupun tumbuhan sebagai sumber pangan, sayur, dan obat bagi kami dari generasi ke generasi,“ sambung Tumenggung Leo, tokoh adat masyarakat Tamambaloh di kawasan ini.
“Kalau memang artinya sama, tempat tinggal dan sumber penghidupan Bapak dan Ibu di sungai yang sama, ada yang keberatan tidak jika kita menggabungkan nama sungai ini menjadi Labian-Leboyan?“ tanyaku lagi, kali ini agak sedikit provokatif.
Dengan bertanya seperti ini, aku berharap peserta menjadi lebih bersemangat lagi berdiskusi, bertukar pikiran, dan merumuskan masa depan mereka bersama di kawasan ini.
Benar saja, suasana menjadi tambah hidup, ditambah lagi dengan kemampuan Janting menghangatkan suasana pertemuan.
“Ada yang bisa cerita bagaimana petuah atau pandangan orang tua kita dulu terhadap sungai ini?“ tanya Janting, menggunakan bahasa Iban dengan fasih. Maklum, dia memang orang Iban. Ia berasal dari salah satu kampung di koridor ini.
