Pada pertemuan itu saya mendampingi peserta menulis deskripsi. Kami praktik menulis profil dosen favorit. Sejauh terpantau, semuanya berjalan lancar. Setiap peserta memilih atau menetapkan sendiri dosen yang akan ditulis.
Saya menyarankan mereka membayangkan dosen itu. Rambutnya tinggal berapa, jenggot dan kumisnya berapa, celana baju seperti apa, dan seterusnya.
“Usahakan sambil menulis sambil senyum. Ayoo…,” kata saya setengah bercanda.
Hasilnya, dalam waktu 10 menit pertama semua peserta berhasil menulis dengan variasi 100-an kata. Lumayan untuk pemula. Meskipun campur narasi juga diberi apresiasi.
Setelah beristirahat sejenak, sampai memberi penguatan, motivasi dan tips menulis cepat, kami lanjutkan tulisan itu. Rentang waktu tetap sama:10 menit lamanya.
Kali ini hasilnya meyakinkan. Lebih banyak yang bisa menulis di atas 200 kata. Rupanya dorongan dan tips manjur juga.
Akhir pertemuan saya minta mereka mengetik apa yang sudah ditulis, dan mengirimkan tulisan di WAG. Hanya mengetik tidak sulit. Asal luangkan waktu, cukuplah.
Lalu sekarang mengapa ada peserta yang mengaku kesulitan hingga mau kesurupan. Sulitnya di mana lagi sih? Apakah ini hoaks?
Ah, nanti sajalah. Tunggu dia datang membawa cerita. (*)
