Tak dibantah, Drs H Sudarto adalah sejarawan mumpuni Kalimantan Barat. Lelaki asal Yogyakarta ini sejak 1964 mewakafkan hidupnya sebagai pendidik di daerah ini. Mula-mula bertugas di Sambas, kemudian Pontianak, hingga sempat memegang beberapa posisi penting di lingkungan Dikbud Kalbar.
Pak Darto, begitu akrab almarhum disapa, adalah tokoh pendidik yang mempunyai rasa sosial yang tinggi. Setahu saya, gaji ataukah pensiun atau tunjangan lain yang beliau peroleh, diperuntukkan buat kemajuan pendidikan, dengan cara disumbangkan ke lembaga pendidik ataukah wakaf masjid.
Orang tua satu ini dikenal piawai, bersahaja, dan sangat jujur. Selain itu semua, Pak Darto adalah seorang yang taat beragama, dia adalah muslim yang soleh.
Dalam belasan tahun terakhir, saya dan beliau selalu tampil bersama mengisi seminar dan ceramah, serta sebagai narasumber di media elektronik televisi. Tutur katanya halus, kalimatnya terpelihara, intonasi ucapnya mengagumkan. Begitulah kesan yang saya dapat dari gaya bicara almarhum ini.
Saat saya bersama Juniar Purba dan Poltak Johansen menyambanginya, untuk merayakan usia ke 83 Pak Darto Nopember tahun lewat, nampak sekali pancaran kegembiraan diwajahnya. Senyum yang khas memberikan wibawa yang tinggi pada penulis sejumlah buku sejarah Kalbar ini.
