Saya mengikuti sebagian dari perjalanan hidup dan karir beliau. Beliau menjadi Pangeran Ratu Landak, menjadi pemimpin di sana. Beliau menghidupkan budaya Landak. Menghidupkan tradisi untuk memperkokoh identitas Melayu Ngabang. Salah satunya tradisi Tumpang Negeri.
Beliau aktif di organisasi raja Melayu Kalbar. Beliau juga aktif dalam upaya mengangkat martabat raja-raja Melayu. Ketika suatu saat saya diminta oleh Pak Ikhsan, Pelaksana Tugas Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Pontianak, melakukan penelitian tentang keraton dan lingkungan budaya Ngabang. Saya menghubungi beliau. Beliau tidak dapat bertemu saya karena sedang studi, S3 di Jawa. Beliau membantu saya dengan memberikan nomor kontak sekretaris keraton Landak, Gusti Herman. Alhamdulillah saya menyelesaikan pengumpulan data dengan lancar.
Lama tak ketemu, kami bertemu dalam satu forum diskusi tentang draft Perda Masyarakat Hukum Adat di Kalbar. Gusti Suryansyah berbicara panjang lebar dalam forum itu. Di luar forum kami sempat say hello.
Sesungguhnya soal sakitnya, kami pernah membicarakan itu. Kala itu kami menghadiri Kongres Budaya Kalbar di Singkawang. Saat makan bersama, Pak Gusti menceritakan bahwa gula darahnya tinggi. Beliau menunjukkan alat suntik untuk memasukkan insulin ke dalam tubuh.
“Saya suntik sendiri, suntiknya di sini,” katanya sambil mencontohkan menusuk perutnya.
