Muhammad Syaugi yang didapuk tampil ke podium tampil cekatan. Beliau tidak hanya berdiri di podium seperti penceramah pada umumnya, namun secara dinamis bergerak kesana-kemari menyapa audiens, sehingga seluruh peserta terpacu semangatnya. Apalagi intonasinya sangat baik diiringi humor-humor segar. Waktu 1 jam terasa berlalu begitu cepat.

“Saya dipuji Pak Ifan pinter, tapi Kepala BPH Migas lebih pinter lagi,” awal pidatonya disambut applaus meriah hadirin. “Kami sama-sama satu almamater di Lemhanas,” ujarnya seraya menyebutkan tujuan motivasi adalah untuk mencapai kesuksesan. Namun kesuksesan bukanlah tujuan, sebab tujuan utama kehidupan adalah kebahagiaan. Apalah gunanya sukses dalam pangkat, jabatan dan prestasi apabila tidak bahagia.
“Kuncinya di sini,” urainya secara meletakkan tangan di dada. “Di hati.” Filosofi Jawa dikutipnya sebagai Wang si na Wang. Artinya bahwa orang itu hanya melihat wajahnya saja. Hati siapa tahu? Bahwa setiap orang punya masalah. “Menjadi kepala badan itu nampaknya saja enak, padahal uenaak sekali,” tuturnya meledakkan tawa hadirin.
