“Kami kemudian mendukung gerakan HAM dengan melakukan kampanye di media sosial salah satunya untuk mengelola pengetahuan anak muda, dengan membentuk pusat informasi dan dokumentasi untuk berbagai isu anak muda di Indonesia serta mengorganisir pembangunan kapasitas untuk anak muda berdasarkan prinsip hak asasi manusia.
Upaya ini untuk menegaskan bahwa memorialisasi menjadi penting agar generasi muda mengenali sekaligus mengakui sejumlah peristiwa kelam dan luka sejarah bangsanya sendiri. Untuk itulah festival ini diselenggarakan dengan melibatkan seluas mungkin berbagai elemen untuk berpartisipasi, seperti lembaga negara, organisasi korban, pekerja seni, organisasi masyarakat sipil hingga generasi muda.
Sekretaris KKPK, Zaenal Muttaqin mengatakan bahwa hingga lebih dari 20 tahun reformasi, komitmen penyelesaian kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu yang ditunggu banyak pihak belum terlihat. Dari agenda pembangunan prioritas pemerintahidak tercantum agenda penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu. Hal ini menjadi catatan penting ke depan bagi gerakan HAM secara luas maupun bagi para korban/penyintas. Kondisi ini ditambah dengan menguatnya kelompok politik intoleran serta pengaruh militerisme yang semakin memperkuat tembok impunitas.
