
“Forum pertemuan lintas generasi akan menjadi ruang keterhubungan, solusi dan hub transformasi tentang peristiwa di masa lalu. Di Festival 45-45 ini kita membuka ruang mengumpulkan kembali ingatan-ingatan, peristiwa, pengalaman yang berserakan, dan menghadirkannya kembali dalam bentuk pameran foto-foto, instalasi seni, tuturan pengalaman dan kesaksian, teks-teks sastra hingga bait-bait musik,” ujarnya.
Lilik HS mengaku tak berharap banyak acara itu mampu membuka tabir kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang mangkrak. Namun setidaknya pemerintah akan mengetahui masih banyak masyarakat sipil yang menanti titik terang pengusutan kasus.
Organisasi anak muda Pamflet melalui koordinatornya, Rosa Vania mengatakan bahwa anak muda sangat senang terlibat dalam advokasi HAM karena selama ini mereka hanya mendapatkan informasi soal sejarah masa lalu dari buku-buku sejarah di sekolah yang tidak lengkap. Maka setelah mencari tahu di forum-forum seperti inilah mereka semakin mengerti perlunya inisiatif baru bagi perubahan untuk anak muda.
