Selain itu dalam memori kolektif orang Melayu lokal sejak lama mereka mengaku memiliki hubungan kekerabatan dengan orang Dayak. Untuk membuktikannya biasanya mereka masih memiliki tembawang yang diwarisi oleh leluhur mereka. Pemilik tembawang tersebut terdiri dari orang Dayak dan orang Melayu. Tembawang adalah kebun lama yang ditanami berbagai tumbuhan buah seperti durian, manggis, rambutan, mangga, dan sebagainya. Pada musim berbuah, orang-orang Dayak akan berpesan kepada saudaranya yang sudah menjadi Melayu untuk mengambil buahnya atau kadang-kadang mengirimnya. Sebaliknya, jika orang-orang Dayak pergi ke kampung orang Melayu mereka akan diterima sebagai saudara dan diperlakukan dengan baik layaknya saudara. Pada masa lampau banyak contoh, orang-orang Dayak menyekolahkan anaknya dengan menitipkan pada orang Melayu. Bahkan makan, minum, dan uang sekolah menjadi tanggungan tuan rumah yang Melayu.
Di samping tembawang, orang Melayu (dan mungkin juga Dayak) diwarisi dengan cerita asal usul yang sama dengan orang Dayak. Di pedalaman hulu Kapuas terkenal cerita ini Demang Nutup sebagai nenek moyang semua orang Hulu, baik Melayu Maupun Dayak.
Selanjutnya ada warisan sistem berladang yang sama di kalangan orang Melayu dan Dayak. Secara keseluruhan sistem berladang di kalangan orang Melayu kegiatan berladang/berhuma yang merupakan kegiatan utama masyarakat desa di pedalaman sebagian besar sama dengan sistem berladang orang Dayak.
