Untuk melestarikan masa lalunya, sebuah komunitas, demikian kata Bellah, membutuhkan sebuah cerita. Mereka menciptakan cerita yang berisi nilai-nilai yang dianggap bermakna bagi komunitas tersebut. Cerita-cerita semacam ini amatlah penting untuk melestarikan sekaligus mengembangkan identitas kolektif komunitas tersebut. Namun, yang diceritakan tidak hanya cerita-cerita tentang kebaikan dan keberhasilan masa lalu, melainkan juga cerita-cerita yang berisi tentang peristiwa-peristiwa menyakitkan, serta kegagalan-kegagalan yang bisa dijadikan bahan pembelajaran. Cerita-cerita tentang peristiwa negatif dari masa lalu justru bisa menjadi perekat identitas kolektif yang kuat, dan menciptakan rasa kebersamaan yang dalam. Dan jika sebuah komunitas sepenuhnya jujur, demikian tulis Bellah, mereka akan mengingat cerita-cerita tidak hanya tentang penderitaan yang diterima, tetapi juga penderitaan yang diakibatkannya- ingatan yang berbahaya, karena ingatan itu mengajak komunitas tersebut untuk mengubah kejahatan yang kuno (Reza, 2012).
Kepercayaan
Meskipun kepercayan/agama selain bahasa sebagai penanda utama perbedaan Melayu dan Dayak. Namun jejak kepercayaan lama masih dapat ditelusuri dalam kehidupan sehari-hari orang Melayu yang sama dengan orang Dayak seperti terdapat dalam upacara pemasangan ancak, kepercayaan yang berkaitan dengan upacara tolak bala, kepercayaan yang berkaitan pantang larang, kempunan, kepercayaan mengenai semangat, dan banyak lagi.
