Selain itu ada juga magis yang disebut Ilmu (untuk menyebut kemampuan magis) di kalangan orang Melayu yang sebagiannya dapat dipastikan merupakan warisan leluhur mereka sebelum Islam. Hermansyah (2010) melaporkan sejumlah Ilmu menunjukkan bahwa kesan warisan nenek moyang. Selain adanya unsur Islam dalam Ilmu, ada pula unsur lokal yang menunjukan warisan tradisi antara lain kepercayaan yang mirip atau bahkan sama dengan kepercayaan yang ada di kalangan Dayak. Sebaliknya juga, orang Dayak menerima pengaruh Melayu dalam mantranya. Orang Dayak mempertahankan unsur lokalnya sebagaimana di kalangan orang Melayu, dan menerima pengaruh Melayu, lebih tepatnya lagi Islam dalam mantranya seperti laporan Hermansyah (2003).
Demikian juga dalam menjaga hubungan sosial dan menghormati saudara Dayaknya, orang Melayu memilih menyebut mereka sebagai orang Darat. Bahkan ini dilakukan ketika mereka sedang membicarakan orang Dayak sebagai orang ketiga. Sebab pada masa itu Dayak memiliki konotasi yang negatif. Sementara di kalangan orang Dayak di Melawi dan Sintang menyebut saudaranya yang muslim sebagai senganan (Fatmawati, 2011) yang artinya sebelah kanan dalam makna masih saudara dekat. Dalam kenyataannya, muslim senganan ini masih meneruskan adat istiadat Dayak yang dimodifikasi dan disesuaikan dengan ajaran Islam.
