Proses identifikasi Melayu-Dayak terhadap masyarakat lokal berdasarkan kepercayaan yang dianut pemeluknya dalam konteks ini jelas demi kepentingan kolonial. Masing-masing kategori ini diberikan citra tertentu. Citra ini secara perlahan tetapi pasti mempengaruhi orang lokal. Karenanya proses identifikasi yang membedakan Melayu dan Dayak semakin kuat. Akibat lebih lanjut hubungan kekerabatan yang sebenarnya sangat kuat karena hubungan darah semakin renggang.
Pemisahan itu semakin kuat ketika pada masa-masa berikutnya kebanyakan orang yang disebut Dayak itu kemudian memilih Kristiani sebagai agama formalnya. Sebaliknya, beberapa orang Dayak yang masuk Islam masih tetap dianggap masuk Melayu. Dalam konteks ini konsep kolonial tersebut terus dipakai. Peneliti belakangan masih melaporkan hal yang sama seperti Sellato (1992) yang menulis: Gradually over time religious conversion would result in a reclassification of the Dayak converts as Malay; the local Malay term for this process is masok Melayu (to become Malay or to enter Malaydom) or sometimes turun Melayu (to come down [and become] Malay.
Kondisi ini diperparah lagi oleh segelintir orang menjadikan identitas Melayu-Dayak sebagai alat politik. Dalam beberapa kasus kedua konstruksi identitas kolonial ini dihadap-hadapkan.
