Seraya menikmati sebatang candu itu, si orgil buka suara dengan aksen Sambas yang kental. “Aku ndak an salah beh. Ape tuk salahku?”
Beberapa pria pegawai menjawab, “Iye beh. Ndak an ade salahmu. Naiklah….”
Ketika sudah bisa diajak bicara, si pria orgil ini dikawal agar tidak melarikan diri. Ia mandi di teras, yang ternyata adalah kediamannya. Tepatnya Jl Pemda II No 45.
“Kami takut Herji membakar rumah. Dia memang tak waras. Beberapa hari lalu dia keluar di tengah semak di malam buta, kami kira pencuri. Nyaris dipukul massa,” ungkap RT setempat, Alek.
Dikisahkan RT, bahwa Herji tinggal sebatang kara di salah satu rumah Pemda Jalur II bernomor 45. Keluarganya berada di Sambas. “Herji pernah kami kirim ke Sambas, namun dia pulang lagi kemari. Kalau sakit syarafnya tak berhasil disembuhkan, kehebohan pasti tetap akan datang,” ungkapnya.
Tetangga yang bersebelahan dinding dengan rumah Herji, juga mengaku resah. “Tadi malam dia membuka keran air di teras. Pagi-pagi kami keluar sudah mendapati jalan banjir. Kami tak berani menegurnya,” kata seorang ibu yang membuka salon kecantikan.
