Nabi Nuh diejek. Diulas sebagai orang gila karena membuat perahu di puncak gunung. Diviralkan seantero jazirah. Juga kapalnya diberaki. Dikencingi. Namun Nuh sabar sesabar-sabarnya. Dia hamba yang paling pandai bersyukur.
Jamaah sudah tahu bahwa kapal yang dibangun di atas gunung adalah perintah Allah yang punya skenario mengirim banjir bandang. Justru kapal Nabi Nuhlah satu-satunya bahtera penyelamat.
Para pengikut Nabi Nuh yang sedikit itulah yang selamat. Yang mengolok-olok, berkata gila, kiamat, justru tenggelam macam Firaun. Wassalam.
*
Sepekan sebelumnya saya bersua Ustadz Literasi. Namanya Rizal Hamka.
Dari namanya saja sudah kyai. Rizal berarti laki-laki. Hamka adalah nama ulama besar Indonesia: Haji Abdul Malik Karim Amrullah.
Kepadanya saya bertanya tentang Munzalan Mubarakan.
“Apa kabar Munzalan Mubarakan Bang?”
Jawabannya senyum. Cakep. Khas Rizal Hamka yang kutu buku. Tercermin di berbagai aktivitasnya semua terkait buku. Hatta aliran kiri sosialis dan ekstrim kanan.

Saat saya bersua di Cafee Everyone miliknya ia pajang ruang buku dengan foto besar Hamka. “Di sana ntar saya pasang foto Pram. Pramudya Ananta Tur. Beda ruangan. Sebab Hamka dan Pram memang tak bisa disatukan,” ujarnya tertawa menggemaskan.
Terkait question saya, dia melanjutkan bahwa cara bacanya adalah berbaik sangka. Husnuzzhon.
