Berita

Tahsin Waqu(l)Robbi Anzilni Munzalan Mubarakan …

Tahsin Waqu(l)Robbi Anzilni Munzalan Mubarakan …
Menatap kapal berlayar di Kapuas

“Saya dekat dengan bacaan Hamka. Namun dekat juga sama Pram. Tidak ada manusia yang sempurna,” lanjutnya.

Manusia yang sempurna dan tidak rugi manakala dia punya iman, berbuat baik dan saling ingat mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. QS Al Ashr. Sejak SD anak anak sudah hapal.

Saya pun manggut-manggut. Apalagi uraian Ustadz Rizal Hamka sama dengan Ustad Ahmad Sama, bahwa kapal Nabi Nuh letter luck Munzalan Mubarakan itu berlayar di atas banjir akbarrrr. Banjir besar. Floating massive. Badai. Prahara. Butuh kekuatan besar menahkodainya.

“Kapal Nabi Nuh–Munzalan Mubarakan–bukannya perahu macam sampan di atas parit We. Bukan di anak Sungai Kapuas. Dia di samudera luas. Ombaknya segede gunung. Tidak mudah,” retorikanya menyebut We dalam langgam Melayu Pontianak sebagai We atau Ketue. Wa-ketua.

Saya manggut manggut. Paham.

Saya tabalkan ke dalam dua kesimpulan, yakni berhusnuzhon atawa berbaik sangka kepada semua pihak. Seperti foto Hamka dan Pram. Kedua, terampil menahkodai di tengah ujian Allah berupa banjir bandang anak-anak zaman now. Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa, namun makin merangsang daya cengkeram akar untuk bertahan tumbuh dan reselience.

*