Berita

Tawaf Wada Sastra Lisan

Tawaf Wada Sastra Lisan
Jamaah China dan Jawa di prosesi haji dan tawaf wada.

Universal kesopansantunan. Demi melihat hal itu–kecintaan itu–melelehkan air mata. Teringat tradisi lisan kampung halaman.

Di sisi lain saya melihat rombongan Nusantara. Jamaah haji Jawa sehingga terbayang Novel Kuntowijoyo–Orang Jawa Naik Haji. Mereka juga bersastra lisan dari prosesi akhir tawaf wada. Berpamitan dengan kompak melantunkan sholawat serta sangat khas dengan senandung Lir Ilirnya Sunan Kalijaga.

Saya turut menggumamkan Lir Ilir yang dipopulerkan Kyai Kanjeng Emha Ainun Nadjib. Pesan akhlakul karimah dalam menjalani kehidupan yang berlandaskan kecintaan kepada Tuhan. Air mata pun tumpah…mengalir sampai sedu. Entah mengapa. Mungkin genetik Nusantara yang lazim dengan senandung. Terbayang Islam mewarnai Nusantara bersama Wali Songo justru karena adab dan kebudayaan.

Tidak hanya Jawa. Di Sunda juga lazim dengan Pupuh. Bahkan tradisi Dayak dan Melayu dengan mantra-mantra. Berbalas pantun dan syair.

Saya sendiri menikmati sastra lisan yang ternyata tidak bertentangan dengan syariat Islam Justru memperkuat tali kepercayaan kepada Tuhan. Mempertebal keimanan.

Saya baru turun sesuai janji berada di titik kumpul penginapan. Membawa kesan bahwa sastra lisan ternyata meruah pula bagi para pemiliknya. Hatta di kakbatullah alaihi. Pusat Mesjidil Haram. Sebuah ibroh yang semakin saya sadari ketika aktif belajar bersama para guru besar Asosiasi Tradisi Lisan. *